Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
وَلَوْ اَنَّ مَا فِى الْاَ رْضِ مِنْ شَجَرَةٍ اَقْلَا مٌ وَّا لْبَحْرُ يَمُدُّهٗ مِنْۢ بَعْدِهٖ سَبْعَةُ اَبْحُرٍ مَّا نَفِدَتْ كَلِمٰتُ اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ
walau anna maa fil-ardhi ming syajarotin aqlaamuw wal-bahru yamudduhuu mim ba'dihii sab'atu ab-hurim maa nafidat kalimaatulloh, innalloha 'aziizun hakiim
"Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan lautan (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh lautan (lagi) setelah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat-kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana."
(QS. Luqman 31: Ayat 27)
* Via Al-Qur'an Indonesia https://quranapp.id
Banyak orang tertarik pada teori-teori dimensi, dunia paralel, atau berbagai argumentasi imajinatif karena hal-hal itu memberikan rasa penasaran dan hiburan. Namun ketika pemikiran seperti itu hanya menjadi bahan fan art, animatic, reels, atau perdebatan tanpa tujuan, sering kali ia berhenti sebagai permainan pikiran dan senda gurau. Islam mengajarkan bahwa akal adalah nikmat yang besar, tetapi tujuan akhirnya bukan sekadar berimajinasi tanpa arah, melainkan mengenal Allah, memperbaiki hati, dan mempersiapkan diri untuk kehidupan yang hakiki.
Dalam Surah Al-A'raf ayat 42, Allah berfirman bahwa orang-orang yang beriman dan beramal saleh akan menjadi penghuni surga dan mereka kekal di dalamnya. Para ulama menjelaskan bahwa surga adalah tempat sempurnanya segala kenikmatan yang halal dan segala kebaikan yang diinginkan jiwa. Karena itu, banyak fitrah manusia yang baik, seperti keinginan untuk dicintai, berkarya, memiliki keindahan, ketenangan, persahabatan, dan kebahagiaan yang sempurna, akan Allah penuhi di Jannah dengan cara yang jauh lebih baik daripada yang dapat dibayangkan manusia di dunia.
Islam juga mengajarkan bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh rupa, keturunan, kekayaan, atau ciri fisiknya. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi melihat hati dan amal kalian. Karena itu, yang paling berharga di sisi Allah bukanlah penampilan, melainkan keikhlasan, ketakwaan, kesabaran, dan amal saleh yang dilakukan karena-Nya.
Banyak manusia menyukai tantangan karena dunia memang diciptakan sebagai tempat ujian. Sebagian orang mengejar tantangan demi gengsi, popularitas, atau kesenangan sesaat. Namun ada pula yang memilih jalan Islam dengan tulus karena mereka menyadari bahwa tujuan hidup bukan hanya mencari pengalaman yang menarik, melainkan mencari ridha Allah. Mereka menemukan ketenangan ketika memahami bahwa kebenaran tidak selalu harus tampak spektakuler seperti cerita fantasi; justru petunjuk Allah memberikan makna yang nyata, arah hidup yang jelas, dan harapan yang kekal.
Sebagian besar orang yang memilih Islam dengan ikhlas merasakan bahwa hubungan dengan Allah lebih menenangkan daripada mengejar khayalan yang tidak pernah selesai. Mereka memahami bahwa dunia hanyalah persinggahan, sedangkan Jannah adalah tujuan. Karena itu, hati mereka lebih terikat kepada akhirat daripada kepada angan-angan yang tidak memiliki kepastian.
Tentang hati yang bersih, Al-Qur'an menggambarkan penghuni surga sebagai orang-orang yang dibersihkan dari rasa dengki dan kebencian. Dalam Surah Al-A'raf ayat 43, Allah berfirman bahwa Dia mencabut segala rasa dendam yang ada dalam dada mereka. Ini menunjukkan bahwa hati yang dipenuhi hasad, iri, dan kebencian bukanlah sifat yang sesuai dengan kesempurnaan surga. Orang yang benar-benar menginginkan Jannah berusaha membersihkan hatinya sejak di dunia: mendoakan kebaikan bagi sesama, memaafkan, tidak senang melihat orang lain susah, dan tidak iri terhadap nikmat yang Allah berikan kepada orang lain.
Karena itu, seni yang paling tinggi dalam pandangan Islam bukanlah sekadar menciptakan dunia khayalan yang indah, melainkan membangun hati yang terikat kepada Allah dan Jannah. Dunia boleh mengagumi cerita, gambar, animasi, atau teori yang rumit, tetapi yang akan dibawa ke hadapan Allah nanti adalah iman, amal saleh, dan hati yang bersih. Itulah bekal yang benar-benar bernilai dan akan menemani seseorang menuju kenikmatan yang kekal di Jannah.
Dalam Islam, rasa takut kepada neraka (khauf) dan harapan kepada surga (raja') adalah dua sayap yang menjaga seorang mukmin agar tetap berada di jalan Allah.
Mengapa seseorang harus takut kepada neraka?
Allah menggambarkan neraka dengan gambaran yang sangat keras agar manusia tidak meremehkan dosa dan tidak merasa aman dari azab-Nya.
Allah berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu..."
(QS. At-Tahrim: 6)
Neraka bukan sekadar simbol atau cerita. Dalam akidah Islam, neraka adalah tempat azab yang nyata. Di dalam Al-Qur'an disebutkan adanya api yang sangat panas, penyesalan yang tidak berakhir, haus yang tidak terpuaskan, dan keadaan yang membuat penghuninya berharap dapat kembali ke dunia untuk beramal saleh.
Rasa takut kepada neraka penting karena:
Mengingatkan bahwa dosa memiliki konsekuensi. Manusia mudah terlena oleh hawa nafsu. Takut kepada neraka membuat seseorang berpikir sebelum berbuat maksiat.
Mendorong taubat. Ketika seseorang menyadari beratnya azab akhirat, ia terdorong untuk kembali kepada Allah sebelum terlambat.
Menjaga keikhlasan ibadah. Seorang mukmin tidak hanya beribadah ketika mudah atau nyaman, tetapi juga tetap taat karena takut kehilangan rahmat Allah dan terkena azab-Nya.
Mengingatkan bahwa kehidupan dunia sangat singkat. Kenikmatan dunia, seberapa pun besar, akan berakhir. Sedangkan akhirat adalah kehidupan yang kekal.
Mengapa seseorang harus sangat ingin masuk surga?
Allah juga menjelaskan surga sebagai balasan bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh.
Di surga terdapat kenikmatan yang tidak pernah dilihat mata, didengar telinga, dan terlintas dalam hati manusia. Di sana tidak ada kesedihan, penyakit, kematian, kelelahan, permusuhan, atau kekecewaan.
Allah berfirman:
"Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya." (QS. Al-Baqarah: 82)
Keinginan masuk surga seharusnya mendorong seseorang untuk:
Menjaga salat.
Berbakti kepada orang tua.
Menjaga lisan.
Menolong sesama.
Menuntut ilmu yang bermanfaat.
Memperbanyak dzikir dan doa.
Menjauhi dosa besar maupun dosa kecil.
Hubungan amal dengan masuk surga
Seorang muslim tidak boleh hanya berkata, "Saya ingin surga," tanpa berusaha mendekat kepada Allah.
Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa orang beriman harus bersungguh-sungguh dalam amal saleh, memperbanyak taubat, dan memohon rahmat Allah. Amal adalah bukti keimanan dan kesungguhan seorang hamba dalam mencari ridha-Nya.
Namun, penting juga diingat bahwa masuk surga pada akhirnya terjadi karena rahmat Allah. Amal saleh adalah sebab yang Allah cintai dan perintahkan, sedangkan rahmat-Nya adalah yang menyempurnakan keselamatan seorang hamba.
Karena itu, seorang mukmin idealnya hidup dengan dua perasaan:
Takut kepada neraka, sehingga tidak meremehkan dosa.
Berharap kepada surga dan rahmat Allah, sehingga tidak putus asa.
Siapa yang mengingat akhirat dengan sungguh-sungguh akan menyadari bahwa dunia hanyalah perjalanan singkat, sedangkan surga dan neraka adalah tempat tinggal yang kekal. Oleh karena itu, setiap hari adalah kesempatan untuk memperbanyak amal saleh, meninggalkan maksiat, dan memohon kepada Allah:
"Ya Allah, masukkanlah kami ke dalam surga-Mu dan jauhkanlah kami dari neraka-Mu." Aamiin.
Doa minta rahmat Allah
اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو فَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ وَأَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ [1]
Latin:
Allahumma rahmataka arjuu, fa laa takilnii ilaa nafsii tharfata 'ainin, wa ash-lih lii sya'nii kullahu, laa ilaaha illaa anta.
Allahumma rahmataka arjuu, fa laa takilnii ilaa nafsii tharfata 'ainin, wa ash-lih lii sya'nii kullahu, laa ilaaha illaa anta.
Artinya:
"Ya Allah, rahmat-Mu aku harapkan, maka janganlah Engkau serahkan (urusanku) kepada diriku sendiri walau sekejap mata, dan perbaikilah segala urusanku seluruhnya. Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau."
"Ya Allah, rahmat-Mu aku harapkan, maka janganlah Engkau serahkan (urusanku) kepada diriku sendiri walau sekejap mata, dan perbaikilah segala urusanku seluruhnya. Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau."